lil habib ahmad bin muhammad bin alwi bin hasan bin abdullah bin alwi alkaff

Rabu, 22 Juni 2011

Sungguh amat mulia orang yg menuntut ilmu

Maha suci Allah yang membentangkan segala keluhuran di muka bumi, yang memberikan ni'mat-ni'mat yang amat berharga bagi diri ku dan kalian, yang setiap hembusan nafas kita lebih berharga dari alam semesta dan seisinya, dan Dia lah Allah maha pemberi keluhuran disetiap waktu dan saat pada hambanya yg beriman maupun tidak....
semoga aku dan kalian dilimpahkan anugrah tertinggi dunia Akhirah oleh Allah Subhanahu WaTa'ala....

AMIN ALLAHUMA AMIN......

'' SUNGGUH AMAT MULIANYA ORANG YANG MENUNTUT ILMU"

Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Qur’an Al mujadalah 11)

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)

Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim).

“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(Bukhari)

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali (Shahih Tirmidzi)

Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )

Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama (Sahih Ibnu Majah)

Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda, Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya.(Bukhari)

Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan aka dilipat gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan ,”Alif,lam,mim” satu huruf , tetapi alif satu huruf , lam satu huruf , dan mim satu huruf,(HR Bukhori)

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus. (Shahih Muslim No.4232)

Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.” (Bukhari)

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)

Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)

Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”
* Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu’abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), “Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla’if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla’if.”


Semoga bermanfaat... billahitayfiq walhidayah summa sallamu'alaikum warohmatullahita'ala wa barikatuh...

Wallahu a’lam.

Rahas ia Senyum Nabi Muhammad SAW

Ketika Anda membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad saw., Anda tidak
akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi Muhammad
saw.
Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap
perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk
meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad saw. dalam dakwah dan
perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak
membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk
ke relung kalbu yang sangat dalam.
Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran,
menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok
pengalang di antara anak manusia!. Itulah ketulusan yang mengalir dari dua
bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam Al Qur an tentang kisah Nabi Sulaiman as, ketika
Ia berkata kepada seekor semut,
Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut
itu. Dan dia berdoa: Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri
nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang
ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan
masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh . An Naml:19
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad saw.,
dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya.
Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.

Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, Sejak aku
masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau
tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.
Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta
ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, Wahai Muhammad,
perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad saw.
menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya
memberi harta dari baitul maal kepadanya.
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan
tidak ituk serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka.
Ka ab ra. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: Saya mendatangi Muhammad saw., ketika saya
mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang
marah. Kemudian beliau berkata, Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.
Suatu ketika Muhammad melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa
sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau
lewat dan tersenyum kepada mereka.
Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detikdetik
hayat beliau.
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, Ketika
kaum muslimin berada dalam shalat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar
menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad saw.
yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang
dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!
Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabatshabatnya,
istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau
mampu menyihir hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan
dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan
senyuman. Dan beliau saw. mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar
menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman
sebagai lahan berlomba dalam kebaikan, beliau bersabda,
Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah. At Tirmidzi dalam sahihnya.
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau
langsung. Namun Anda masih banyak melihat sebagaian manusia masih berlaku
keras terhadap anggota keluarganya, tehadap rumah tangganya dengan tidak
menebar senyuman dari bibirnya dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia -karena bersikap cemberut dan muka
masam- mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana
mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari
contoh Nabi muhammad saw.!
Ya, kadang Anda melewati jam-jam Anda dengan dirundung duka, atau
disibukkan beragam pekerjaan, akan tetapi Anda selalu bermuka masam,
cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah, maka demi Allah,
ini adalah perilaku keras hati, yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan
pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkan boleh-boleh
saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun
seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata
ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang
disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai
senyuman sangat besar pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, Bagaimana Anda Mendapatkan
Teman dan Mempengaruhi Manusia menceritakan:
Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah
yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana
memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga
dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih
menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita.
Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.
Ia melanjutkan, Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada
orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang
bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, Saya pilih tersenyum
kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya
menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan
sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang
tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas
penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayananterhadap saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, Ingatlah, bahwa senyum
tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang
luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan
menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak
memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan
sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.
Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang
mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada
Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri
kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi
sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan
senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut
dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman,
yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang
selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam
berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira.
Allahu a lam

Selasa, 21 Juni 2011

Hakikat Doa

Oleh : Agustiar Nur Akbar

"Dan Tuhan kamu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina." ” (QS Al-Ghafir [40]: 60).

Orang yang berdoa kepada Allah SWT tidak akan pernah sia-sia. Allah swt akan mengabulkan setiap doa dari hamba-hambanya. Karena Allah SWT sangat dekat dengan kita. Dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sementara orang-orang yang tidak pernah berdoa kepada Allah swt adalah orang-orang yang sombong. Kelak mereka akan masuk neraka jahanam.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2]: 186).

Namun tidak setiap orang yang doanya didengar oleh Allah swt. Melainkan hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya saja. Dan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Serta memenuhi segala perintah-Nya juga menjauhi segala larangan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda ”Apabila seorang Muslim berdoa dan tidak memohon sesuatu yang berdosa atau pemutusan kerabat kecuali akan dikabulkan oleh Allah satu dari tiga perkara: Akan dikabulkan doanya, atau ditunda untuk disimpan (sebagai pahala) dia akhirat, atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya.” (Al Hadis).

Sebagai seorang Muslim dalam berdoa hendaklah kita jangan pernah berputus asa dan berburuk sangka kepada Allah swt. Karena merasa doa kita tidak di dengar atau tidak di kabulkan oleh-Nya.

Sejatinya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, bahwasanya Allah swt akan mengabulkan doa seorang muslim selama doa itu baik. Kalaupun tidak terlaksana bukan berati tidak dikabulkan. Bisa jadi ditangguhkan masanya, atau diganti dengan pahala di akhirat kelak. Bisa juga doa tersebut dijadikan sebagai penolak bala atas kita. Dalam artian doa tersebut menjadi pengganti dari sesuatu yang buruk yang akan menimpa kita menjadi sesuatu yang baik. Dengan kata lain, itu semua berati usaha kita dalam berdoa tidak ada yang sia-sia di sisi Allah swt.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah swt melebihi doa.” (HR Tirmidzi).

Biar bagaimanapun derajat doa di sisi Allah tetap menjadi yang utama. Allah swt sangat senang kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa dan memohon kepada-Nya. Oleh karenanya janganlah kita menjadi orang yang sombong dengan jarangnya atau tidak pernahnya kita berdoa kepada Allah SWT.

Berdoalah dengan penuh keikhlasan dan keyakinan, bahwa Allah akan mengabulkan dan mendengar doa kita. Pada hakikatnya, alam semeseta beserta isinya adalah kepunyaan Allah. Kita hanyalah bagian kecil dari penciptaan-Nya yang sempurna. Hanya orang-orang yang sombong dan munafik yang merasa tidak membutuhkan pertolongan (tidak berdoa kepada) Allah. Wallahu a‘Slam bish shawab.

*) Penulis adalah mahasiswa program sarjana Universitas Al-Azhar Syarif Cairo, fakultas Syari'ah Wal Qonun.

Wow... Perluasan Masjid di Inggris Telan Dana Dua Miliar Poundsterling

REPUBLIKA.CO.ID, Dewan Kota Peterborough telah memberikan lampu hijau terkait rencana perluasan masjid di wilayah tersebut yang ajukan dewan masjid dan komunitas setempat. Proyek senilai 2 miliar poundsterling untuk masjid yang terletak di Jalan Burton itu, termasuk ruang serba guna, perpustakaan, ruangan komputer dan kendaraan operasional.

Presiden Komunitas Syiah Khoja Ithna Asheri, Raza Hussain Rahim mengatakan merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat di Peterborough. "Ini akan menjadi sebuah bangunan komunitas bagi semua orang untuk digunakan dalam kota," ujarnya.

Masjid yang terletak di Jalan Burton ini dibangun pertama kali pada 1978, pendeknya setelah Muslim Syiah Khoja tiba di Peterborough dari timur Afrika. "Kami sangat terbuka ketika kami tiba di kota ini," lanjut Rahim.

"Kami membangun masjid, dan sekarang kami telah mengumpulkan dana dari komunitas dan rekanan organisasi di Inggris dan Afrika, untuk pembangunan masjid baru ini, yang merupakan lebih dari masjid," tuturnya.

"Ini pusat masyarakat dan kami adalah bagian dari masyarakat. Anggota kami di sini untuk berkontribusi pada sejumlah profesi termasuk kedokteran, hukum kedokteran gigi, dan akuntansi," lanjut dia.

Jika permohonan disetujui, Rahim berharap perluasan masjid tersebut dimulai enam bulan.

Bela Diri Jilbabnya Ditarik, Muslimah di London Kena Jotos

REPUBLIKA.CO.ID, Kekerasan terhadap Muslim di Eropa tak henti-hentinya terjadi. Kali ini tindak kekerasan tersebut menimpa Muslim Inggris. Kazemi, yang merupakan Muslimah yang tinggal di London mendapatkan kekerasan rasial. Ia diserang oleh sekitar empat perempuan warga sekitar saat dirinya hendak pulang ke rumah.

Mereka mencoba menarik jilbab yang dikenakan Kazemi, namun ia menentangnya. Melihat penolakan yang diberikan Kazemi, keempat perempuan tersebut kemudian menjatuhkan pukulannya ke wajah Kazemi.

Usai melakukan aksinya, mereka pun pergi meninggal Kazemi dengan wajah yang berlumuran darah. Kejadian tersebut berlangsung di salah satu jalan utama di London.

Akibatnya, Kazemi mengalami luka yang cukup serius di sekitar wajahnya. Terkait aksi itu, Himpunan Mahasiswa Muslim di London mengutuk tindakan tersebut.

Mereka menuduh pemerintah Inggris mempromosikan dan mendukung kelompok anti-Islam. Selain itu mereka juga meminta pertanggungjawaban aksi empat perempuan pengeroyok tersebut.

Khulafaur Rasyidin: Umar bin Khathab (634-644 M) Pemimpin yang Adil (1)

Umar benar-benar tak kuasa menahan amarah. Tekadnya sudah bulat. Hari itu juga ia harus menghabisi Rasulullah Saw. Dengan pedang terhunus di tangan, putra pasangan Al-Khathab dan Hanthamah ini bergegas meninggalkan rumahnya.

Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Nuaim bin Abdullah, seorang teman yang memberitakan bahwa adik perempuannya sendiri, Fathimah binti Al-Khathab dan suaminya Said bin Zaid telah memeluk Islam. Kemarahan Umar semakin membuncah.

Dipenuhi dengan murka tak tertahan, Umar mengalihkan arah perjalanannya. Ia bersegera menuju rumah adiknya, Fathimah. Di depan pintu, ia menemukan Fathimah dan suaminya sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, surah Thaha.

Masih dipenuhi kemarahan, Umar menghardik Fathimah dan memerintahkannya untuk meninggalkan Islam dan kembali kepada tuhan-tuhan nenek moyang meraka. Di puncak amarahnya, Umar sempat memukul Said bin Zaid dan menampar adiknya, Fathimah. Darah mengalir dari celah bibir Fthimah.

Hati Umar luluh. Di tengah kegalauannya itu, pandangan Umar menangkap sebuah lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Hatinya ciut. Dengan tangan bergetar, Umar meminta lembaran itu. Fathimah menolak.

Ibnu Hisyam—dalam Sirah-nya—meriwayatkan, Fathimah sempat meminta Umar untuk mandi lebih duu. Setelah itu, ia menyerahkan lembaran bertuliskan surah Thaha itu kepada Umar. Begitu membaca ayat-ayat tersebut, perasaan Umar tenang. Kedamaian pun menyelimutinya.

Hati Umar benar-benar luluh. Timbullah keinginan kuat untuk segera menemui Rasulullah Saw. Ditemani Khabbab bin Arts, Umar meninggalkan rumah Fathimah menuju rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam di mana Rasulullah Saw sedang menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Di hadapan Rasulullah Saw, Umar berlutut menyatakan keislamannya. Kala itu tahun keenam dari kenabian. Umar berada pada urutan ke-40 dari mereka yang mula-mula masuk Islam.

Allah SWT mengabulkan doa Rasulullah Saw yang pernah beliau lantunkan, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan dua orang yang paling Engkau cintai; dengan Umar bin Al-Khathab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” (HR At-Tirmidzi). Ternyata yang lebih Allah cintai adalah Umar bin Al-Khathab.

Doa dan harapan Rasulullah ini sangat bisa dipahami. Sebelum masuk Islam, Umar adalah orang yang paling memusuhi Islam, sampai-sampai ada yang pernah berujar, “Meski keledainya masuk Islam, sesekali Umar tidak akan masuk Islam.”



Mungkin sebagian kita belum mengetahui bahwa waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu utama terkabulnya do’a. Sehingga karena ketidaktahuan setelah adzan malah disibukkan dengan hal lain yang tidak berfaedah. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa waktu tersebut adalah di antara waktu terkabulnya do’a (waktu ijabah).

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap orang memperhatikan waktu tersebut dan memanfaatkannya untuk banyak bermunajat dan memohon pada Allah yang Maha Mendengar setiap do’a.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad 3/155. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu yang barokah (penuh kebaikan) yang sudah sepantasnya seorang muslim menyibukkan diri untuk banyak berdo’a saat itu.

Kita lihat contoh dari ulama besar Saudi Arabia (pernah menjabat sebagai ketua Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia), Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah yang benar-benar menjaga amalan yang satu ini. Diceritakan oleh murid beliau, Sa’ad Ad Daud bahwasanya Syaikh rahimahullah setelah melakukan shalat sunnah dua raka’at (antara adzan dan iqomah), Syaikh Sa’ad ingin mengajukan suatu pertanyaan pada beliau rahimahullah. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah lantas menjawab, “Wahai Sa’ad, ingatlah bahwa do’a antara adzan dan iqomah adalah do’a yang tidak tertolak.” Lihatlah beliau rahimahullah lebih ingin memanfaatkan waktu tersebut daripada melakukan hal lainnya karena menjawab pertanyaan dari Sa’ad bisa saja ditunda selesai shalat. Lihat pula bagaimana semangat beliau rahimahullah dalam mengamalkan hadits di atas.

Syaikhuna, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Kebanyakan manusia malah meninggalkan do’a antara adzan dan iqomah. Mereka menyibukkan diri dengan tilawah Al Qur’an. Tidak ragu lagi bahwa membaca Al Qur’an adalah amalan yang mulia. Akan tetapi tilawah Al Qur’an bisa dilakukan di waktu lain. Menyibukkan diri dengan berdo’a dan berdzikir, itu lebih afdhol (lebih utama). Karena do’a yang dituntunkan pada waktu tertentu tentu lebih utama dari do’a yang dipanjatkan di tempat lain.”

Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah mengatakan, “Namun dituntunkan jika bisa menggabungkan antara berdo’a dan membaca Al Qur’an kala itu. Alhamdulillah jika keduanya bisa dilakukan sekaligus.”

Setelah kita mengetahui hal ini, manfaatkanlah waktu tersebut untuk memanjatkan do’a. Moga Allah memperkenankan setiap do’a-do’a kita.

Saleh di Hadapan Allah

Akhir-akhir ini masyarakat di buat heboh dengan kejadian-kejadian yang dipertontonkan oleh media. Ada kasus pejabat menonton film porno, bom bunuh diri di Cirebon, wabah ulat bulu, dan lainnya. Ini adalah fenomena alam lumrah. Tapi yang pasti, manusia harus kembali kepada sang pencipta alam semesta. Karena, itulah fitrahnya. Manusia harus beribadah kepada Allah. Manusia tidak boleh terlena dengan berbagai persoalan dan peristiwa, karena hal itu dapat melupakan dirinya pada keagungan sang Khaliq.

Untuk menjalankan kehidupannya, manusia harus tetap bersabar. Bersabar dalam beribadah dan bersabar dalam menjauhi larangan (maksiat) yang digariskan Allah. Karena, kebaikan itu bukan menurut kehendak manusia, tapi kebaikan adalah sesuatu yang baik menurut syariat Allah. Begitu juga kebatilan adalah sesuatu yang menurut syariat batil.

Ketika manusia menjalankan kebatilan, mereka harus menanggung risikonya. Begitu pula sebaliknya, jika manusia melaksanakan kebaikan, maka dia akan mendapatkan manfaatnya, baik sekarang maupun yang akan datang (kiamat). Saleh adalah mereka yang menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk Allah. Saleh terbagi dua, yakni saleh ibadah dan saleh sosial. Orang saleh, selalu berpikir dan berperilaku untuk kebaikan. Kebaikan yang tidak hanya untuk diri dan golongannya, tapi memberi manfaat kebaikan pada seluruh manusia.

Inilah yang jarang di negeri ini. Kita menantikan, perilaku kebaikan dari semua pihak, terutama para pemimpin atau petinggi negeri ini. Rasul SAW bersabda, "Tidak termasuk dalam golonganku orang tidak punya kasih dan sayang terhadap yang lebih kecil dan tidak punya etika dengan yang lebih besar." Hadis di atas memberikan peringatan kepada kita, bahwa orang-orang yang berkuasa, namun tidak memikirkan rakyatnya, maka dia dianggap sebagai bukan umat Rasul SAW. Kesenjangan begitu kentara di negeri ini. Rakyat kecil ditindas, para pejabat dan penguasa malah minta dilayani dan dihormati. Padahal, perilakunya sangat buruk di mata rakyat.

Dalam sebuah hadis yang diterangkan oleh Abu Said al-Khudry ra, Nabi SAW bersabda, "Berdebatlah antara surga dan neraka. Neraka berkata, "Padaku orang-orang besar yang berkuasa dan sombong-sombong." Surga berkata, "Padaku orang-orang rendahan dan miskin." Maka, Allah memutuskan antara keduanya dengan firman-Nya kepada surga, "Kau surga, tempat rahmatku. Aku merahmati engkau dan pada siapa yang Aku kehendaki. Dan kau neraka tempat siksa-Ku. Aku menyiksa siapa yang Kukehendaki, dan bagi masing-masing kamu pasti Aku penuhkan. (HR Muslim).

Jabatan adalah amanah yang dijalankan, karena kita pasti ditanya tentang amanah itu di hadapan Allah SWT. Mari kita bangun kepekaan dan kepedulian untuk masyarakat, agar kita menjadi orang saleh di hadapan Allah dan makhluk-Nya.