Akhir-akhir ini masyarakat di buat heboh dengan kejadian-kejadian yang dipertontonkan oleh media. Ada kasus pejabat menonton film porno, bom bunuh diri di Cirebon, wabah ulat bulu, dan lainnya. Ini adalah fenomena alam lumrah. Tapi yang pasti, manusia harus kembali kepada sang pencipta alam semesta. Karena, itulah fitrahnya. Manusia harus beribadah kepada Allah. Manusia tidak boleh terlena dengan berbagai persoalan dan peristiwa, karena hal itu dapat melupakan dirinya pada keagungan sang Khaliq.
Untuk menjalankan kehidupannya, manusia harus tetap bersabar. Bersabar dalam beribadah dan bersabar dalam menjauhi larangan (maksiat) yang digariskan Allah. Karena, kebaikan itu bukan menurut kehendak manusia, tapi kebaikan adalah sesuatu yang baik menurut syariat Allah. Begitu juga kebatilan adalah sesuatu yang menurut syariat batil.
Ketika manusia menjalankan kebatilan, mereka harus menanggung risikonya. Begitu pula sebaliknya, jika manusia melaksanakan kebaikan, maka dia akan mendapatkan manfaatnya, baik sekarang maupun yang akan datang (kiamat). Saleh adalah mereka yang menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk Allah. Saleh terbagi dua, yakni saleh ibadah dan saleh sosial. Orang saleh, selalu berpikir dan berperilaku untuk kebaikan. Kebaikan yang tidak hanya untuk diri dan golongannya, tapi memberi manfaat kebaikan pada seluruh manusia.
Inilah yang jarang di negeri ini. Kita menantikan, perilaku kebaikan dari semua pihak, terutama para pemimpin atau petinggi negeri ini. Rasul SAW bersabda, "Tidak termasuk dalam golonganku orang tidak punya kasih dan sayang terhadap yang lebih kecil dan tidak punya etika dengan yang lebih besar." Hadis di atas memberikan peringatan kepada kita, bahwa orang-orang yang berkuasa, namun tidak memikirkan rakyatnya, maka dia dianggap sebagai bukan umat Rasul SAW. Kesenjangan begitu kentara di negeri ini. Rakyat kecil ditindas, para pejabat dan penguasa malah minta dilayani dan dihormati. Padahal, perilakunya sangat buruk di mata rakyat.
Dalam sebuah hadis yang diterangkan oleh Abu Said al-Khudry ra, Nabi SAW bersabda, "Berdebatlah antara surga dan neraka. Neraka berkata, "Padaku orang-orang besar yang berkuasa dan sombong-sombong." Surga berkata, "Padaku orang-orang rendahan dan miskin." Maka, Allah memutuskan antara keduanya dengan firman-Nya kepada surga, "Kau surga, tempat rahmatku. Aku merahmati engkau dan pada siapa yang Aku kehendaki. Dan kau neraka tempat siksa-Ku. Aku menyiksa siapa yang Kukehendaki, dan bagi masing-masing kamu pasti Aku penuhkan. (HR Muslim).
Jabatan adalah amanah yang dijalankan, karena kita pasti ditanya tentang amanah itu di hadapan Allah SWT. Mari kita bangun kepekaan dan kepedulian untuk masyarakat, agar kita menjadi orang saleh di hadapan Allah dan makhluk-Nya.
Majelis Mahabbah yang dibimbing oleh Al-Ustadz Al-Habib Ahmad bin Muhammad AlKaff berlokasi di: Pusat : Jln Kp. Bendungan, Balimester, Jatinegara Cabang : Jln Kebon Pala Tanah Rendah, Kp Melayu
lil habib ahmad bin muhammad bin alwi bin hasan bin abdullah bin alwi alkaff
Selasa, 21 Juni 2011
Ketegasan Rasulullah SAW
Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW pada masa ‘Fathul Makah’ (pembebasan kota Mekah), ada seorang wanita Quraisy yang mencuri. Wanita tersebut seorang bangsawan dari Bani Makhzum. Mereka bingung dalam memutuskan perkara tersebut.
Dalam perundingan salah seorang dari mereka mengusulkan untuk membicarakannya kepada Usamah. Melalui Usamah mereka berniat untuk memintakan syafa’at atau ampunan dari Rasulullah SAW atas wanita tersebut. Mereka tahu bahwa Usamah adalah salah seorang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Berharap Rasulullah mengabulkan permintaan Usamah.
Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah SAW perihal keinginan mereka. Rasulullah SAW menjawab, “Apakah engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?”
Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah, apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi apabila seorang yang lemah mencuri, mereka jalankan hukuman kepadanya. Demi Dzat yang Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Kalau seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri. Niscaya aku akan memotong tangannya.”
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar memotong tangan wanita tersebut. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dan menikah. (HR Bukhari Muslim)
Di sini sangat jelas sekali bagaimana ketegasan Rasulullah SAW dalam menjalankan perintah Allah swt. Bagaimana Rasulullah saw bersikap terhadap yang hak dan yang bathil. Rasulullah SAW tidak mengenal istilah kolusi, korupsi dan nepotisme.
Dalam menegakan hukum yang bertujuan tercapainya keadilan serta kemashlatan bersama. Rasulullah SAW tidak pandang bulu, tidak melihat latar belakang. Tidak melihat apakah ia pejabat, atau bangsawan. Orang yang dekat dan dicintai Rasulullah saw tidak menjadi jaminan untuk lolos dari hukuman.
Fatimah binti Muhammad, putri tercinta Rasulullah SAW pun tak luput dari hukuman jikalau ia mencuri. Bahkan beliau sendiri yang akan menghukumnya. Terlihat bagiamana Rasulullah SAW bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaan pada dirinya tidak digunakan secara semena-mena. Beliau tidak melebihkan satu dengan yang lainnya jika sudah memasuki ranah hukum. Termasuk darah dagingnya sendiri yang beliau cintai.
Inilah sosok pemimpin sejati dan profesional; mempunyai sikap tegas dalam memutuskan suatu perkara. Bukan saja istikaomah serta memegang teguh aturan-aturan Illahi.
Rasulullah SAW juga bersikap adil terhadap umatnya.Semoga di kemudian hari kita dapat menemukan pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan seperti Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Kairo, Mesir
Dalam perundingan salah seorang dari mereka mengusulkan untuk membicarakannya kepada Usamah. Melalui Usamah mereka berniat untuk memintakan syafa’at atau ampunan dari Rasulullah SAW atas wanita tersebut. Mereka tahu bahwa Usamah adalah salah seorang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Berharap Rasulullah mengabulkan permintaan Usamah.
Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah SAW perihal keinginan mereka. Rasulullah SAW menjawab, “Apakah engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?”
Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah, apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi apabila seorang yang lemah mencuri, mereka jalankan hukuman kepadanya. Demi Dzat yang Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Kalau seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri. Niscaya aku akan memotong tangannya.”
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar memotong tangan wanita tersebut. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dan menikah. (HR Bukhari Muslim)
Di sini sangat jelas sekali bagaimana ketegasan Rasulullah SAW dalam menjalankan perintah Allah swt. Bagaimana Rasulullah saw bersikap terhadap yang hak dan yang bathil. Rasulullah SAW tidak mengenal istilah kolusi, korupsi dan nepotisme.
Dalam menegakan hukum yang bertujuan tercapainya keadilan serta kemashlatan bersama. Rasulullah SAW tidak pandang bulu, tidak melihat latar belakang. Tidak melihat apakah ia pejabat, atau bangsawan. Orang yang dekat dan dicintai Rasulullah saw tidak menjadi jaminan untuk lolos dari hukuman.
Fatimah binti Muhammad, putri tercinta Rasulullah SAW pun tak luput dari hukuman jikalau ia mencuri. Bahkan beliau sendiri yang akan menghukumnya. Terlihat bagiamana Rasulullah SAW bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya.
Kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaan pada dirinya tidak digunakan secara semena-mena. Beliau tidak melebihkan satu dengan yang lainnya jika sudah memasuki ranah hukum. Termasuk darah dagingnya sendiri yang beliau cintai.
Inilah sosok pemimpin sejati dan profesional; mempunyai sikap tegas dalam memutuskan suatu perkara. Bukan saja istikaomah serta memegang teguh aturan-aturan Illahi.
Rasulullah SAW juga bersikap adil terhadap umatnya.Semoga di kemudian hari kita dapat menemukan pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan seperti Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.
*) Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Kairo, Mesir
Sejarah Hidup Muhammad SAW: Para Muslim Pelopor
REPUBLIKA.CO.ID, Ali adalah anak pertama yang menerima Islam. Kemudian Zaid bin Haritsah, bekas budak Nabi. Dengan demikian Islam masih terbatas hanya dalam lingkungan keluarga Rasulullah: beliau sendiri, isterinya, keponakannya dan bekas budaknya.
Pada waktu itu, Abu Bakar bin Abi Quhafah dari kabilah Taim adalah teman akrab Nabi SAW. Abu Bakar senang sekali kepadanya, karena sudah diketahuinya Muhammad sebagai orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, Abu Bakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.
Abu Bakar kemudian mengajak Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam untuk memeluk Islam. Kemudian menyusul pula Abu Ubaidah bin Jarrah, dan banyak lagi yang lain dari penduduk Makkah. Mereka, Assabiqunal Awwalun, (para Muslim pelopor) selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama Islam dari Nabi sendiri.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme, maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi. Apabila akan melakukan shalat, mereka pergi ke celah-celah gunung di Makkah. Keadaan ini berjalan selama tiga tahun, sementara Islam kian meluas di kalangan penduduk Makkah. Wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad selama itu makin memperkuat keimanan kaum Muslimin.
Sebenarnya, yang kian menambah pesatnya perkembangan dakwah Islam adalah teladan baik yang diberikan Rasulullah. Beliau adalah sosok yang penuh bakti dan kasih sayang, sangat rendah hati dan tegas. Tutur katanya lemah-lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan.
Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan Makkah yang sudah mengenal arti kesucian, menyadari arti kebenaran, pengampunan dan rahmat; beriman kepada ajaran Muhammad SAW. Semua kaum yang lemah, sengsara dan tidak berpunya, beriman kepadanya. Ajaran Islam tersebar di Makkah, orang berbondong-bondong memeluk agama ini, pria dan wanita.
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya beliau mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu, perintah Allah supaya disampaikan. Ketika itu wahyu datang: "Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah kasih sayang kepada orang-orang beriman yang mengikuti kau. Kalaupun mereka tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, 'Aku lepas tangan dari segala perbuatan kamu." (QS Asy-Syuara'a: 214-216).
"Sampaikanlah apa yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kau hiraukan orang-orang musyrik itu." (QS Al-Hijr: 94).
Rasulullah pun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke rumahnya, dicobanya untuk bicara dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Talib, pamannya, menghentikan pembicaraan itu. Ia mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya, Rasulullah mengundang mereka kembali.
Selesai makan, Nabi SAW berkata kepada mereka, "Aku tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari yang kubawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku dalam hal ini?"
Mereka semua menolak, dan sudah bersiap-siap akan meninggalkannya. Namun tiba-tiba Ali—yang kala itu masik kanak-kanak—bangkit berdiri. "Wahai Rasulullah, saya akan membantumu," katanya. "Saya adalah lawan siapa saja yang kau tentang."
Bani Hasyim tersenyum, dan ada pula yang tertawa terbahak-bahak. Mata mereka berpindah-pindah dari Abu Talib kepada anaknya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Setelah itu, Rasulullah mengalihkan seruannya dari keluarga-keluarga yang dekat kepada seluruh penduduk Makkah. Suatu hari beliau naik ke bukit Shafa dan berseru, "Hai masyarakat Quraisy."
Mereka lalu datang berduyun-duyun sambil bertanya-tanya, "Ada apa?"
"Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?"
"Ya," jawab mereka. "Engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat engkau berdusta."
"Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa yang sungguh berat," kata Rasulullah. "Wahai Bani Abdul Muthalib, Bani Abdi Manaf, Bani Zuhrah, Bani Taim, Bani Makhzum dan Bani Asad, Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga-keluargaku terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain mengatakan, "Tidak ada tuhan selain Allah."
Abu Lahab, pamannya sendiri, kemudian berdiri sambil berteriak, "Celaka kau hari ini! Untuk inikah kau kumpulkan kami?"
Nabi SAW tak mampu berkata-kata. Dilihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu Allah: "Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia. Tak ada gunanya kekayaan dan usahanya itu. Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya..." (QS Al-Masad: 1-4).
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Makkah. Setiap hari niscaya akan ada saja orang yang berislam—menyerahkan diri kepada Allah.
Pada waktu itu, Abu Bakar bin Abi Quhafah dari kabilah Taim adalah teman akrab Nabi SAW. Abu Bakar senang sekali kepadanya, karena sudah diketahuinya Muhammad sebagai orang yang bersih, jujur dan dapat dipercaya. Oleh karena itu, Abu Bakar adalah orang dewasa pertama yang diajaknya menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.
Abu Bakar kemudian mengajak Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Zubair bin Awwam untuk memeluk Islam. Kemudian menyusul pula Abu Ubaidah bin Jarrah, dan banyak lagi yang lain dari penduduk Makkah. Mereka, Assabiqunal Awwalun, (para Muslim pelopor) selanjutnya menerima ajaran-ajaran agama Islam dari Nabi sendiri.
Mengetahui adanya permusuhan yang begitu bengis dari pihak Quraisy terhadap segala sesuatu yang melanggar paganisme, maka kaum Muslimin masih sembunyi-sembunyi. Apabila akan melakukan shalat, mereka pergi ke celah-celah gunung di Makkah. Keadaan ini berjalan selama tiga tahun, sementara Islam kian meluas di kalangan penduduk Makkah. Wahyu yang datang kepada Nabi Muhammad selama itu makin memperkuat keimanan kaum Muslimin.
Sebenarnya, yang kian menambah pesatnya perkembangan dakwah Islam adalah teladan baik yang diberikan Rasulullah. Beliau adalah sosok yang penuh bakti dan kasih sayang, sangat rendah hati dan tegas. Tutur katanya lemah-lembut dan selalu berlaku adil; hak setiap orang masing-masing ditunaikan.
Saudagar-saudagar dan kaum bangsawan Makkah yang sudah mengenal arti kesucian, menyadari arti kebenaran, pengampunan dan rahmat; beriman kepada ajaran Muhammad SAW. Semua kaum yang lemah, sengsara dan tidak berpunya, beriman kepadanya. Ajaran Islam tersebar di Makkah, orang berbondong-bondong memeluk agama ini, pria dan wanita.
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya beliau mengumumkan ajaran yang masih disembunyikan itu, perintah Allah supaya disampaikan. Ketika itu wahyu datang: "Dan berilah peringatan kepada keluarga-keluargamu yang dekat. Limpahkanlah kasih sayang kepada orang-orang beriman yang mengikuti kau. Kalaupun mereka tidak mau juga mengikuti kau, katakanlah, 'Aku lepas tangan dari segala perbuatan kamu." (QS Asy-Syuara'a: 214-216).
"Sampaikanlah apa yang sudah diperintahkan kepadamu, dan tidak usah kau hiraukan orang-orang musyrik itu." (QS Al-Hijr: 94).
Rasulullah pun mengundang makan keluarga-keluarga itu ke rumahnya, dicobanya untuk bicara dan mengajak mereka kepada Allah. Tetapi Abu Talib, pamannya, menghentikan pembicaraan itu. Ia mengajak orang-orang pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya, Rasulullah mengundang mereka kembali.
Selesai makan, Nabi SAW berkata kepada mereka, "Aku tidak melihat ada seorang manusia di kalangan Arab ini dapat membawakan sesuatu ke tengah-tengah mereka lebih baik dari yang kubawakan kepada kamu sekalian ini. Kubawakan kepada kamu dunia dan akhirat yang terbaik. Tuhan telah menyuruh aku mengajak kamu sekalian. Siapa di antara kamu ini yang mau mendukungku dalam hal ini?"
Mereka semua menolak, dan sudah bersiap-siap akan meninggalkannya. Namun tiba-tiba Ali—yang kala itu masik kanak-kanak—bangkit berdiri. "Wahai Rasulullah, saya akan membantumu," katanya. "Saya adalah lawan siapa saja yang kau tentang."
Bani Hasyim tersenyum, dan ada pula yang tertawa terbahak-bahak. Mata mereka berpindah-pindah dari Abu Talib kepada anaknya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkannya dengan ejekan.
Setelah itu, Rasulullah mengalihkan seruannya dari keluarga-keluarga yang dekat kepada seluruh penduduk Makkah. Suatu hari beliau naik ke bukit Shafa dan berseru, "Hai masyarakat Quraisy."
Mereka lalu datang berduyun-duyun sambil bertanya-tanya, "Ada apa?"
"Bagaimana pendapatmu sekalian kalau kuberitahukan bahwa pada permukaan bukit ini ada pasukan berkuda. Percayakah kamu?"
"Ya," jawab mereka. "Engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat engkau berdusta."
"Aku mengingatkan kamu sekalian, sebelum menghadapi siksa yang sungguh berat," kata Rasulullah. "Wahai Bani Abdul Muthalib, Bani Abdi Manaf, Bani Zuhrah, Bani Taim, Bani Makhzum dan Bani Asad, Allah memerintahkan aku memberi peringatan kepada keluarga-keluargaku terdekat. Baik untuk kehidupan dunia atau akhirat. Tak ada sesuatu bahagian atau keuntungan yang dapat kuberikan kepada kamu, selain mengatakan, "Tidak ada tuhan selain Allah."
Abu Lahab, pamannya sendiri, kemudian berdiri sambil berteriak, "Celaka kau hari ini! Untuk inikah kau kumpulkan kami?"
Nabi SAW tak mampu berkata-kata. Dilihatnya pamannya itu. Tetapi kemudian sesudah itu datang wahyu Allah: "Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia. Tak ada gunanya kekayaan dan usahanya itu. Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya..." (QS Al-Masad: 1-4).
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam di kalangan penduduk Makkah. Setiap hari niscaya akan ada saja orang yang berislam—menyerahkan diri kepada Allah.
Sejarah Hidup Muhammad SAW: Sang Calon Nabi
Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.
Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak Keluarga Sa'ad itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapaknya, "Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikkan."
Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan. Halimah berkata, "Lalu saya pergi dengan ayahnya (suaminya) ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan, 'Kenapa kau, Nak?' Dia menjawab, 'Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan, lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari."
Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Makkah.
Atas peristiwa ini Ibnu Ishaq membawa sebuah hadits Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibnu Ishaq nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan—seperti cerita Halimah kepada Aminah—ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia memerhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu.
Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata, "Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya."
Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu.
Baik kaum orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan menganggap sumber itu lemah sekali. Yang melihat kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah itu hanya anak-anak yang baru dua tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu.
Akan tetapi sumber-sumber itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di tengah-tengah Keluarga Sa'ad itu sampai mencapai usia lima tahun. Andaikata peristiwa itu terjadi ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu, beberapa penulis berpendapat, bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.
Dalam hal ini, Sir William Muir tidak mau menyebutkan cerita tentang dua orang berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan, bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya suatu gangguan pada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu gangguan krisis urat-saraf. Dan kalau hal itu tidak sampai mengganggu kesehatannya ialah karena bentuk tubuhnya yang baik.
Barangkali yang lain pun akan mengatakan, baginya tidak diperlukan lagi akan ada yang harus membelah perut atau dadanya. Sebab sejak dilahirkan, Tuhan sudah mempersiapkannya supaya menjalankan risalah-Nya. Dermenghem berpendapat, cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui orang dari teks ayat yang berbunyi, "Bukankah sudah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang telah memberati punggungmu?" (QS Al-Insyirah: 1-3).
Apa yang telah diisyaratkan Qur'an itu adalah dalam arti rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan (menyucikan) dan mencuci hati yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian meneruskannya seikhlas-ikhlasnya, dengan menanggung segala beban karena Risalah yang berat itu.
Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat perikemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat kenabiannya itu memang tidak perlu ia harus bersandar kepada apa yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka kepada yang ajaib-ajaib.
Dengan demikian, mereka beralasan sekali menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa yang diminta oleh Al-Qur'an supaya merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai dengan ekspresi Qur'an tentang kaum Musyrik yang tidak mau mendalami dan tidak mau mengerti juga.
Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'ad sampai mencapai usia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia berkata kepada teman-temannya kemudian, "Aku yang paling fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah Keluarga Sa'ad bin Bakr."
Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak Keluarga Sa'ad itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapaknya, "Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikkan."
Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan. Halimah berkata, "Lalu saya pergi dengan ayahnya (suaminya) ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan, 'Kenapa kau, Nak?' Dia menjawab, 'Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan, lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari."
Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Makkah.
Atas peristiwa ini Ibnu Ishaq membawa sebuah hadits Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibnu Ishaq nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan—seperti cerita Halimah kepada Aminah—ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia memerhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu.
Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata, "Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya."
Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu.
Baik kaum orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan menganggap sumber itu lemah sekali. Yang melihat kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah itu hanya anak-anak yang baru dua tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu.
Akan tetapi sumber-sumber itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di tengah-tengah Keluarga Sa'ad itu sampai mencapai usia lima tahun. Andaikata peristiwa itu terjadi ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu, beberapa penulis berpendapat, bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.
Dalam hal ini, Sir William Muir tidak mau menyebutkan cerita tentang dua orang berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan, bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya suatu gangguan pada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu gangguan krisis urat-saraf. Dan kalau hal itu tidak sampai mengganggu kesehatannya ialah karena bentuk tubuhnya yang baik.
Barangkali yang lain pun akan mengatakan, baginya tidak diperlukan lagi akan ada yang harus membelah perut atau dadanya. Sebab sejak dilahirkan, Tuhan sudah mempersiapkannya supaya menjalankan risalah-Nya. Dermenghem berpendapat, cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui orang dari teks ayat yang berbunyi, "Bukankah sudah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang telah memberati punggungmu?" (QS Al-Insyirah: 1-3).
Apa yang telah diisyaratkan Qur'an itu adalah dalam arti rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan (menyucikan) dan mencuci hati yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian meneruskannya seikhlas-ikhlasnya, dengan menanggung segala beban karena Risalah yang berat itu.
Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat perikemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat kenabiannya itu memang tidak perlu ia harus bersandar kepada apa yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka kepada yang ajaib-ajaib.
Dengan demikian, mereka beralasan sekali menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa yang diminta oleh Al-Qur'an supaya merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai dengan ekspresi Qur'an tentang kaum Musyrik yang tidak mau mendalami dan tidak mau mengerti juga.
Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'ad sampai mencapai usia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia berkata kepada teman-temannya kemudian, "Aku yang paling fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah Keluarga Sa'ad bin Bakr."
Pemilik Gelar Al-Amin
Muhammad tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Makkah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pasar-pasar yang berdekatan dengan Ukaz, Majanna dan Dzu'l Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu'allaqat.
Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak ia masih anak-anak, gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hatinya, sudah tampak. Sehingga semua penduduk Makkah memanggilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, adalah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dengan gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata, "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad."
Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri.
Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh sebab itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya, Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Makkah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.
Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah memedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh materi.
Bukankah dia juga yang pernah berkata, "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara hidup yang mengejar harta dengan serakah demi pemenuhan hawa nafsu, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.
Suatu ketika ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Bani) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Makkah terkaya. Ia menjalankan bisnisnya dengan bantuan sang ayah, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil keponakannya—yang ketika itu sudah berumur dua puluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Thalib, "Aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talib pun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Thalib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada keponakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasihat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itu pun berangkat menuju Syam. Perjalanan ini menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini membuatnya lebih banyak bermenung, berpikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar sebelumnya; tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Makkah.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara bisnis yang lebih menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Setelah tiba waktunya kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.
Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Mar'z Zahran. Ketika itu Maisara berkata, "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Makkah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya, ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan.
Sesudah itu, Maisara pun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia—yang sudah berusia empat puluh tahun dan telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy—tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan—kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa binti Munya—kata sumber lain.
Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata, "Kenapa kau tidak mau kawin?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata, "Khadijah!"
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah pertanyaan itu Nufaisa berkata, "Serahkan hal itu kepadaku."
Maka Muhammad pun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari pernikahan.
Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan sebagai suami-isteri dan ibu-bapak. Suami-isteri yang harmonis dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak, sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak ketika masih kecil.
Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak ia masih anak-anak, gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hatinya, sudah tampak. Sehingga semua penduduk Makkah memanggilnya Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, adalah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dengan gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata, "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing. Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad."
Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri.
Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh sebab itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya, Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Makkah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.
Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah memedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh materi.
Bukankah dia juga yang pernah berkata, "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara hidup yang mengejar harta dengan serakah demi pemenuhan hawa nafsu, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.
Suatu ketika ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Bani) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Makkah terkaya. Ia menjalankan bisnisnya dengan bantuan sang ayah, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil keponakannya—yang ketika itu sudah berumur dua puluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Thalib, "Aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talib pun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Thalib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada keponakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasihat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itu pun berangkat menuju Syam. Perjalanan ini menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini membuatnya lebih banyak bermenung, berpikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar sebelumnya; tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Makkah.
Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara bisnis yang lebih menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Setelah tiba waktunya kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.
Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Mar'z Zahran. Ketika itu Maisara berkata, "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Makkah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya, ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan.
Sesudah itu, Maisara pun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia—yang sudah berusia empat puluh tahun dan telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy—tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan—kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa binti Munya—kata sumber lain.
Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata, "Kenapa kau tidak mau kawin?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata, "Khadijah!"
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah pertanyaan itu Nufaisa berkata, "Serahkan hal itu kepadaku."
Maka Muhammad pun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari pernikahan.
Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan sebagai suami-isteri dan ibu-bapak. Suami-isteri yang harmonis dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak, sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak ketika masih kecil.
10 jenis perempuan dengan 10 macam siksaan.
Ali karomallahu Wajhah berkata:
'Aku masuk di rumah Nabi S.A.W berserta Fatimah lalu aku mendapatkan baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata:
Tebusan paduka adalah ayahku dan ibuku, hai Rasulullah! apa yang membuat paduka menangis?'
Baginda bersabda:
'Hai Ali! pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di neraka dengan macam-macam siksa, lalu aku menangis kerana begitu berat siksaan mereka yang aku lihat.
Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya
dan aku melihat perempuan yang digantungkan dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya
dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan ALLAH mengerahkan ular dan kala jengking untuk menyengatinya.
Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh himar dan ia ditimpakan sejuta siksaan.
Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api itu masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakangnya) dan malaikat memukul kepalanya dengan palu-palu besar dari neraka.'
Lalu Fatimah Az-zahra R.A berdiri dan berkata:
'Wahai kekasihku dan kasih mataku! perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa siksa ini?'
Maka Nabi S.A.W bersabda:
'Wahai anakku! adapun perempuan yang digantung dengan rambutnya kerana ia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum lelaki (yang lain).
Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya kerana ia telah menyakiti suaminya.
Adapun perempuan yang digantung dengan kedua payudaranya kerana ia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menginjak tempat tidur suaminya.
Adapun perempuan yang diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan ALLAH mengerahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyegatinya kerana ia tidak mandi dari janabat dan haid dan ia mentertawakan solat (meninggalkan solat).
Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan himar kerana ia ahli mengadu domba dan pembohong.
Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, kerana ia ahli pengungkap lagi penghasut.
Wahai anakku! celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
Al-hasil bahawa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak, kerana taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredaannya adalah wajib, dan seorang suami tidak wajib mentaati isteri.'
3. Keutamaan wanita Sholat di rumahnya.
Sembahyang wanita di rumahnya lebih baik dari sembahyang di masjid nabi.
Diceritakan dari isteri Khumaid As-sa-idiy bahawa ia datang kepada Nabi s.a.w lalu berkata:
'Hai Rasulullah sesungguhnya aku senang menjalankan solat bersamamu.'
Baginda bersabda:
'Aku mengerti bahawa engkau senang menjalankan solat bersamaku, akan tetapi solatmu di tempat tidurmu itu lebih baik daripada solatmu di kamarmu dan solatmu di kamarmu lebih baik dari solatmu di rumahmu dan solatmu di rumahmu lebih baik daripada solatmu di masjidku.'
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Sesungguhnya yang lebih disukai solatnya perempuan oleh ALLAH ialah yang dilakukan pada tempat yang amat gelap di rumahnya.'
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Sesungguhnya seorang perempuan itu (jika) keluar sedangkan ia tidak mempunyai kerepotan apa-apa, maka syaitan meliriknya lalu berkata:kamu tidak melewati seorangpun kecuali engkau menimbulkan pesona padanya dan sesungguhnya seorang perempuan itu (jika) memakai pakaiannya, maka keluarganya bertanya: kemana engkau hendak pergi? ia menjawab: aku akan menjenguk orang sakit atau mendatangi jenazah atau melakukan solat di masjid padahal tidak ada perempuan yang menyembah Tuhannya yang membandingi pahala jika ia menyembah Tuhannya di rumah.'
Dari Abi Muhammad Asy-syaibaniy bahawa ia pernah melihat Abdullah sedang mengeluarkan perempuan-perempuan dari masjid pada hari Juma'at dan berkata:
'Keluarlah (dari masjid dan pergilah) kerumahmu. Kerana yang demikian itu lebih baik bagimu.'
Diceritakan oleh Ath-thobaroniy di dalam kitab Al-Kabir.
Sebab isteri umat Bani Israil kena laknat.
Diceritakan dari Aisyah R.A :
'Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W duduk di masjid, tiba-tiba masuklah seorang perempuan dari suku Muzainah yang memakai pakaian yang terseret-seret di tanah untuk perhiasan pada dirinya di dalam masjid.'
Maka Nabi S.A.W bersabda:
'Wahai manusia laranglah! isteri-isterimu dari memakai perhiasan dan memperindah gaya berjalan di dalam masjid. Kerana sesungguhnya kaum Bani Israil itu tidak dilaknati hingga mereka memberi pakaian isteri-isteri mereka dengan pakaian perhiasan dan mereka berjalan dengan gaya sombong di dalam masjid.'
Perbuatan isteri yang menyamai dosa berzina.
Nabi S.A.W bersabda:
'Siapa saja seorang perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian keluar lantas melewati suatu kaum, dengan tujuan agar dapat mencium bau harumnya, maka ia berdosa seperti dosa berzina dan setiap mata yang memandangnya juga berdosa seperti dosa berzina.'
Mengapa ahli neraka ramai wanita?
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Aku pernah melihat di dalam syurga lalu aku melihat yang terbanyak ahli syurga ialah orang-orang fakir dan aku juga melihat di dalam neraka lalu melihat yang terbanyak ahli neraka ialah perempuan-perempuan. Demikian itu kerana kurang baktinya kepada Allah dan kepada suami mereka serta kebanyakan mereka menghias diri seindah-indahnya (berkelebihan jika hendak keluar rumah).'
'Tabarruj adalah apabila seorang perempuan hendak keluar dari rumahnya, maka ia memakai pakaian yang terbagus serta yang memperindah gaya berpakaian dan mempercantik diri dan keluar untuk membuat manusia lain terpesona terhadap dirinya. Dan jika ia selamat/tidak terjadi gangguan apa-apa pada dirinya, maka manusia(yang melihatnya) tidaklah mudah selamat dari godaan perempuan tadi.'
Wanita itu aurat!
Dan kerana hal ini, maka Nabi s.a.w bersabda:
'Seorang perempuan itu aurat(tercela bagi perempuan yang terang-terangan dihadapan lelaki lain). Oleh kerana itu jika ia keluar dari rumahnya, maka ia dilirik oleh syaitan(untuk disasarkan).'
Dan lebih dekatnya perempuan di sisi Allah adalah jika ia berada di rumahnya. Dan dalam riwayat lain:
'Seorang perempuan itu aurat kerana itu kekanglah mereka dirumah sebab seorang perempuan itu jika keluar menuju jalan lalu bertanyalah keluarganya kepadanya: kemana kamu hendak pergi? Dia menjawab: Aku akan menjenguk orang sakit dan mendatangi jenazah. Maka syaitan tak henti-hentinya menggoda perempuan tadi hingga ia menampakkan lengannya dan ia tidak mencari keredaan Allah sebagaimana jika ia berada di rumahnya dan menyembah Tuhannya dan berbakti kepada suaminya.'
Keluar rumah tanpa izin suami dosa besar.
Termasuk dosa besar adalah seorang perempuan yang telah bersuami keluar dari rumahnya tanpa seizin suaminya, biarpun dia keluar kerana kematian salah seorang dari kedua orang tuanya.
'Aku masuk di rumah Nabi S.A.W berserta Fatimah lalu aku mendapatkan baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata:
Tebusan paduka adalah ayahku dan ibuku, hai Rasulullah! apa yang membuat paduka menangis?'
Baginda bersabda:
'Hai Ali! pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di neraka dengan macam-macam siksa, lalu aku menangis kerana begitu berat siksaan mereka yang aku lihat.
Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya
dan aku melihat perempuan yang digantungkan dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya
dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan ALLAH mengerahkan ular dan kala jengking untuk menyengatinya.
Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh himar dan ia ditimpakan sejuta siksaan.
Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api itu masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakangnya) dan malaikat memukul kepalanya dengan palu-palu besar dari neraka.'
Lalu Fatimah Az-zahra R.A berdiri dan berkata:
'Wahai kekasihku dan kasih mataku! perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa siksa ini?'
Maka Nabi S.A.W bersabda:
'Wahai anakku! adapun perempuan yang digantung dengan rambutnya kerana ia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum lelaki (yang lain).
Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya kerana ia telah menyakiti suaminya.
Adapun perempuan yang digantung dengan kedua payudaranya kerana ia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menginjak tempat tidur suaminya.
Adapun perempuan yang diikat kedua kakinya sampai kedua payudaranya dan diikat kedua tangannya sampai ubun-ubunnya dan ALLAH mengerahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyegatinya kerana ia tidak mandi dari janabat dan haid dan ia mentertawakan solat (meninggalkan solat).
Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan himar kerana ia ahli mengadu domba dan pembohong.
Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya, kerana ia ahli pengungkap lagi penghasut.
Wahai anakku! celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
Al-hasil bahawa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak, kerana taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredaannya adalah wajib, dan seorang suami tidak wajib mentaati isteri.'
3. Keutamaan wanita Sholat di rumahnya.
Sembahyang wanita di rumahnya lebih baik dari sembahyang di masjid nabi.
Diceritakan dari isteri Khumaid As-sa-idiy bahawa ia datang kepada Nabi s.a.w lalu berkata:
'Hai Rasulullah sesungguhnya aku senang menjalankan solat bersamamu.'
Baginda bersabda:
'Aku mengerti bahawa engkau senang menjalankan solat bersamaku, akan tetapi solatmu di tempat tidurmu itu lebih baik daripada solatmu di kamarmu dan solatmu di kamarmu lebih baik dari solatmu di rumahmu dan solatmu di rumahmu lebih baik daripada solatmu di masjidku.'
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Sesungguhnya yang lebih disukai solatnya perempuan oleh ALLAH ialah yang dilakukan pada tempat yang amat gelap di rumahnya.'
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Sesungguhnya seorang perempuan itu (jika) keluar sedangkan ia tidak mempunyai kerepotan apa-apa, maka syaitan meliriknya lalu berkata:kamu tidak melewati seorangpun kecuali engkau menimbulkan pesona padanya dan sesungguhnya seorang perempuan itu (jika) memakai pakaiannya, maka keluarganya bertanya: kemana engkau hendak pergi? ia menjawab: aku akan menjenguk orang sakit atau mendatangi jenazah atau melakukan solat di masjid padahal tidak ada perempuan yang menyembah Tuhannya yang membandingi pahala jika ia menyembah Tuhannya di rumah.'
Dari Abi Muhammad Asy-syaibaniy bahawa ia pernah melihat Abdullah sedang mengeluarkan perempuan-perempuan dari masjid pada hari Juma'at dan berkata:
'Keluarlah (dari masjid dan pergilah) kerumahmu. Kerana yang demikian itu lebih baik bagimu.'
Diceritakan oleh Ath-thobaroniy di dalam kitab Al-Kabir.
Sebab isteri umat Bani Israil kena laknat.
Diceritakan dari Aisyah R.A :
'Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W duduk di masjid, tiba-tiba masuklah seorang perempuan dari suku Muzainah yang memakai pakaian yang terseret-seret di tanah untuk perhiasan pada dirinya di dalam masjid.'
Maka Nabi S.A.W bersabda:
'Wahai manusia laranglah! isteri-isterimu dari memakai perhiasan dan memperindah gaya berjalan di dalam masjid. Kerana sesungguhnya kaum Bani Israil itu tidak dilaknati hingga mereka memberi pakaian isteri-isteri mereka dengan pakaian perhiasan dan mereka berjalan dengan gaya sombong di dalam masjid.'
Perbuatan isteri yang menyamai dosa berzina.
Nabi S.A.W bersabda:
'Siapa saja seorang perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian keluar lantas melewati suatu kaum, dengan tujuan agar dapat mencium bau harumnya, maka ia berdosa seperti dosa berzina dan setiap mata yang memandangnya juga berdosa seperti dosa berzina.'
Mengapa ahli neraka ramai wanita?
Rasulullah s.a.w bersabda:
'Aku pernah melihat di dalam syurga lalu aku melihat yang terbanyak ahli syurga ialah orang-orang fakir dan aku juga melihat di dalam neraka lalu melihat yang terbanyak ahli neraka ialah perempuan-perempuan. Demikian itu kerana kurang baktinya kepada Allah dan kepada suami mereka serta kebanyakan mereka menghias diri seindah-indahnya (berkelebihan jika hendak keluar rumah).'
'Tabarruj adalah apabila seorang perempuan hendak keluar dari rumahnya, maka ia memakai pakaian yang terbagus serta yang memperindah gaya berpakaian dan mempercantik diri dan keluar untuk membuat manusia lain terpesona terhadap dirinya. Dan jika ia selamat/tidak terjadi gangguan apa-apa pada dirinya, maka manusia(yang melihatnya) tidaklah mudah selamat dari godaan perempuan tadi.'
Wanita itu aurat!
Dan kerana hal ini, maka Nabi s.a.w bersabda:
'Seorang perempuan itu aurat(tercela bagi perempuan yang terang-terangan dihadapan lelaki lain). Oleh kerana itu jika ia keluar dari rumahnya, maka ia dilirik oleh syaitan(untuk disasarkan).'
Dan lebih dekatnya perempuan di sisi Allah adalah jika ia berada di rumahnya. Dan dalam riwayat lain:
'Seorang perempuan itu aurat kerana itu kekanglah mereka dirumah sebab seorang perempuan itu jika keluar menuju jalan lalu bertanyalah keluarganya kepadanya: kemana kamu hendak pergi? Dia menjawab: Aku akan menjenguk orang sakit dan mendatangi jenazah. Maka syaitan tak henti-hentinya menggoda perempuan tadi hingga ia menampakkan lengannya dan ia tidak mencari keredaan Allah sebagaimana jika ia berada di rumahnya dan menyembah Tuhannya dan berbakti kepada suaminya.'
Keluar rumah tanpa izin suami dosa besar.
Termasuk dosa besar adalah seorang perempuan yang telah bersuami keluar dari rumahnya tanpa seizin suaminya, biarpun dia keluar kerana kematian salah seorang dari kedua orang tuanya.
alhabib umar bin hafidz
Dari Abu Dzar Rodhiallahu 'Anhu. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Ya Abu Dzar.. Sungguh pagi-pagi engkau belajar satu bab dari kitab Allah, itu lebih baik bagimu di banding kamu shalat seratus raka'at. Dan sungguh pagi-p...agi engkau mengajarkan satu bab ilmu, di amalkan atau tidak, adalah lebih baik di banding kamu shalat seribu rakaat" Di dalam kitab "IHYA ULUMUDDIN" dan "MUKASYAFATUL QULUB" [karya Imam Al-Ghozali Rohimahullahu Anhu] dan juga di dalam kitab AT-TARGHIB WA TARHIB. Mu'ad bin Jabal Rodiallahu 'Anhu. berkata; "Belajar ilmu, karena Allah Subhanahu WaTa'alla, itu adalah amal kebajikan dan menuntut atau mencari ilmu adalah ibadah, sedangkan pengkajiannya adalah tasbih, penyelidikannya baikan jihad, pengajarannya adalah shadaqah dan pemberiannya kepada ahlinya adalah pendekatan diri kepada Allah. Dan Ilmu adalah penghibur di kala sepi, teman di waktu menyendiri dan ilmu sebagai petunjuk di kala senang dan susah. Dan Ia adalah penolong dan teman yang baik dan juga penerang jalan menuju surga atau keridhoannya Allah" "Dan Para malaikat ingin menghiasi mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Dan setiap benda yang basah dan kering bertasbih, semua ikan dan binatang di laut, hewan buas dan hewan ternak di daratan bahkan bintang-bintang di langit bertasbih dan memohonkan ampunan bagi mereka yang belajar atau mencari ilmu agama. Karena dengan ilmu menghidupkan hati, menerangi pandangan yang gelap dan menguatkan badan yang lemah. Dengan ilmu pula hamba mencapai kedudukan orang-orang yang shalih serta derajat yang tinggi. Dan memikirkan ilmu sama dengan puasa dan mengkajinya sama dengan sembahyang malam. Dengan ilmu manusia berhati-hati dalam mengamalkan agamanya atau ibadahnya dan memelihara hubungan silaturrahimnya. Ilmu adalah pemimpin, dan amal adalah pengikutnya. Orang yang mendapat ilmu adalah orang yang bahagia dan orang yang tidak memilikinya adalah orang yang rugi dan sengsara" Rasulullah Shallallah 'Alaihi Wasallam bersabda; "Manusia yang paling utama ialah orang mukmin yang berilmu yang jika di butuhkan ia bermanfaat bagi orang lain dan jika tidak di butuhkan makai ia akan selalu merasa cukup pada dirinya" [Al-Hindi di dalam kitab Kanz Al-Unal, As-Suyuthi di dalam kitab Jam'u Al-Jawawi, dan Al-Iraq di dalam kitab Al-Mughni 'An Hamli Al-Asfar] Rasulullah Shallallah 'Alaihi Wasallam bersabda; "Iman itu telanjang dan pakainnya ialah taqwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu" [HR.Ibnu Abi Syaiban dalam kitab Al-Mushannaf] Rasulullah Shallallah 'Alaihi Wasallam bersabda; "Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridho dngn apa yang di lakukannya" [HR.Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad, At-Tarmidzi dalam kitab As-Sunan] Rasulullah Shallallah 'Alaihi Wasallam bersabda; "Kepergian untuk menuntut ilmu satu bab itu lebih baik dari pada shalatmu sebanyak seratus raka'at" [HR Ibnu Majah dalam kitab As-Sunan] Di dalam hadits riwayat Imam Muslim, Dari Abu Hurairah Rodiallahu 'Anhu. Rasulullah Shallallah 'Alaihi Wasallam bersabda; *MAN SALAKA THORIQON ILAL 'ILMI SALAKALLAHU BIHI THORIQON ILAL JANNAH* "barang siapa yang memudahkan langkahnya menuju jalan ilmu, maka Allah akan memudahkan padanya jalan menuju sorga" ?
BY HAMUT
BY HAMUT
Langganan:
Postingan (Atom)